ANTARA MENCOBA DAN MEMAKAI ALA MAMA BERTI

vega_darmawanti

artis kdi

malam ketika menonton televisi di Chanel TPI pada malam ahad tanggal 15 Juni 2008 di Sumenep, sedikit lebih enjoy dengan menikmati kopi dibarengi isapan rokok, sementara keluarga dengan asiknya menonton yang hanya sebatas hiburan belaka, selalu mengikuti acara sampai beberapa peserta tampil kepodium dalam audisi vokalis terbaik itu.

Yang paling mengejutkan pada malam itu ketika melihat penampilan dan sikap sang komentator terhadap peserta, karena tidak sewajarnya bersikap seperti itu, yang biasanya yang kira lihat hanya guyon dan selalu membuat orang ketawa seperti seolah tidak ada yang sakit hati, stres, semua telah dihipnotis dalam menonton acara itu dengan kegembiraaan, namun kali ini penampilan Mama Berti (komentator) kali ini sangat berbeda dengan yang lainnya.

Penampilan yang serius inilah seringkali membuat penonton kadang kesal karena tidak boleh bersorak-sorak, sementara H. Jaja Miharja selalu memberikan suport yang baik pada setiap peserta yang tampil, namun dengan hal itu membuat penonton justru merasa lega dengan sedikit kata ceplosannya (selalu ditingkatkan dalam vocalnya ya….terus maju). Setelah selesai bernyanyi (peserta), Mama Berti bertanya pada salah satu penyanyi ” Apa kamu tahu mencoba baju dengan memakai baju” penyanyi menjawab dengan sedikit bingung, “ya, kalo mencoba itu dibuka lagi, tetapi jika memakai tidak langsung dibuka”. Mama Berti mengatakan lagi dengan menjelaskan apa maksud kata-kata beliau, ” kalo mencoba bernyanyi itu tidak akan maksimal dalam latihan, karena basicnya mencoba, ketika bisa yang sudah. Tetapi jika memakai/bernyayi, kita perlu mencari mana celah yang harus diperbaiki, tidak mencoba kembali secara keseluruahan. Pernyataan Mama Berti tersebut sebuah gambaran bagi siapa saja yang mempunyai skil, aganr secara terus-menerus melatih mencari kekurangan yang harus diperdalam kembali guna mewujudkan kesempurnannya, apakah mereka seorang manajer, sekretaris ataupun seorang guru sekalipun. Oleh karena itu jia yang kurang saja diperbiki terus-menerus, pendek kata (meminjam kata SBY) akan cepat bisa dengan sempurna.

kenakalan, remaja dan sehat…….

Kawan Sudarsono, 1991 dalam bukunya Kenakalan remaja mengatakan Juvenille Delinquency secara estimologis dapat diartikan sebagai kejahatan anak, akan tetapi pengertian tersebut memberikan konotasi yang cenderung negative atau negative sama sekali. Atas pertimbangan yang lebih moderat dan mengingat kepentingan subyek, maka beberapa ilmuwan memberanikan diri untuk mengartikan Juvenille Delinquency sebagai kenakalan remaja
Psikolog Drs. Bimo Walgito merumuskan arti selengkapnya dari kenakalan remaja sebagai berikut : tiap perbuatan, jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa maka perbuatan tersebut merupakan kejahatan, jadi merupakan perbuatan yang melawan hukum, yang dilakaukan anak, khususnya anaka remaja
Dr Fuad hasan dalam B. simanjuntak juga memberikan definisi kenakalan remaja sebagai perbuatan anti social yang dilakukan anak remaja yang bilamana dilakukan orang dewasa dikualifikasikan sebagai kejahatan. Dari kedua pengertian diatas Sudarsana menarik benang merah diantara keduanya yaitu, kenakalan remaja adalah perbuatan atau kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan oleh anak remaja yang bersifat melawan hukum anti social, anti susila dan menyalahi norma-norma agama.
Ada banyak sekali jenis kenakalan yang telah dilakukan remaja pada saat ini, oleh karena itu ada pengelompokkan kenakalan remaja di dalam seperti yang diungkapkan Sudarsono :
1. Kejahatan dengan kekerasan, termasuk didalamnya pembunuhan dan penganiayaan
2. Kejahatan Pencurian, baik itu pencuriana biasa maupun pencurian dengan pemberatan
3. Penggelapan
4. Penipuan
5. Pemerasan
6. Gelandangan
7. Pemerkosaan
8. Kejahatan Narkotika, termasuk didalamnya memakai dan mengedarkan narkotika
Melihat begitu banyaknya kenakalan remaja maka kita perlu mencegah agar remaja di sekitar kita tidak terlibat atau melakukannya

KESEHATAN
Membicarakan Kesehatan lebih komplek dari pada kita membicarakan rasa pedas atau musik dangdut, dari keduanya kita sering bisa memberikan definisi yang sama dengan beberapa orang. Apakah kita sudah mengetahui kesehatan itu sendiri? Sering kita menjawab tahu, dengan mengatakan bahwa sehat itu tidak sakit dan tidak cacat, akan tetapi apakah hanya itu yang disebut dengan kesehatan, organisasi WHO mencoba memberikan definisi dari kesehatan itu sendiri

“ Health is state of complete Physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity “

dari pengertian sehat dari WHO kita bisa menarik pengertian tersendiri bahwa orang kan bisa dikatakan sehat apabila mereka berada dalam keadaan yang sehat baik iti secara fisik, mental maupun social tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
Dari pembahasan diatas akan menimbulkan apakah kita sudah bisa termasuk didalam golongan orang yang sehat?. Dari pengertian tersebut walaupun kita terbebas dari penyakit maupun kecacatan atau kelemahan kita belum tentu dikatakan sudah sehat tetapi kita harus melihat terlebih dahulu apakah sisi mental dan sosial kita sudah sehat.
Dari pengertian sehat dari WHO dingakatlah pengertian sehat di Indonesia dalam Undang-undang no 23 tahun 1992 yang mengatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa dan social yang memungkinkan setiap orang dapat hidup produktif secara social dan ekonomi. Berdasar Undang-undang 23 tahun 1992 kesehatan mencakup 4 aspek yakni fisik (badan), mental (jiwa), social dan ekonomi.soekidjo dalam bukunya Pendidikan dan Perilaku Kesehatan menjabarkan indicator kesehatah berdasar 4 aspek tersebut.
1. Kesehatan fisik terwujud apabila seseorang tidak merasa sakit dan secara klinis benar benar tidak sakit, semua organ tubuh normal dan berfungsi normal atau tidak ada gangguan fungsi tubuh
2. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 hal yakni pikiran, emosional dan spiritual. Pikiran yang sehat terlihat dari cara pikir seseorang yang logis, emosional yang sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosionalnya missal, takut sedih atau gembira, spiritual yang baik terlihat dari praktek keagamaan seseorang, yakni kita bisa melaksanakan apa yang diajarkan dan menjauhi berbagai larangan
3. Kesehatan social terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain secara baik, atau mampu berinteraksi seseoranga atau kelompok lain tanpa meliht SARA, atau bisa terlihat dari sikap saling toleransi dan menghargai
4. Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat dari produktivitas seseorang, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatuyang dapat menyokong hidupnya atau keluarganya secara financial. Bagi anak remaja dan usia lanjut dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku, bagi mereka produktif disini dapat diartikan mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka misalnya, sekolah atau kuliah bagi anak atau remaja dan kegiatan keagaaan bagi usia lanjut

KENAKALAN REMAJA DAN KESEHATAN
Kenakalan dan kesehatan mungkin kita menganggap dua hal yang sangat jauh berhubungantetapi setelah kita mengetahui bagaimana pengertian kesehatan itu maka akan dibahas bagaimana kesehatan pelaku kenakalan remaja berdasarkan indicator dari sehat yang telah kita bahas di atas. Berdasarkan 4 aspek kesehatan (fisik, social, mental, dan ekonomi) secara garis besar bisa dikatakan bahwa pelaku kenakalan remaja tidak sehat meskipun mungkin tidak ditemukan penyakit maupun kecacatan dalam tubuh mereka, kita akan bahas sebagai berikut :
1. Kesehatan fisik, kenakalan remaja mengakibatkan tidak sehat pada segi fisik terutama pada mereka pelaku kejahatan narkotika, pemakaian narkotika pada manusia mengakibatkan banyak gangguan kesehatan seperti penurunan fungi saraf dan terganggunya banyak fungsi organ,
2. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 hal yakni pikiran, emosional dan spiritual. Pikiran pada remaja yang melakukan kenakalan remaja dipastikan tidak sehat karena mereka sudah tidak bisa lagi berpikir logis yang ada dalam pikiran mereka hanya kesenangan pribadi mereka. Secara emosional mungkin mereka masih sehat tetapi pada pengguna narkoba sering tidak bisa mengekpresikan emosional mereka sehingga bisa dikatakan mereka tidak lagi sehat secara emosional. Sehat secara spiritual bisa dilihat dengan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, melihat pengertian tersebut kenakalan remaja termasuk perilaku tidak sehat karena tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk melakukan kejahatan.
3. Kesehatan social terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain secara baik, atau mampu berinteraksi seseoranga atau kelompok lain tanpa meliht SARA, atau bisa terlihat dari sikap saling toleransi dan menghargai. Dari pengertian tersebut kenakalan remaja sudah tidak bisa memenuhi criteria sehat karena kenakalan remaja selalau mengakibatkan keresahan pada orang lain, bahkan terkadang mengakibatkan kerugian di masyarakat.
4. Kesehatan ekonomi terlihat dari mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka misalnya, sekolah atau kuliah bagi anak atau remaja, bisa dipastikan perilaku kenakalan pada remaja tidak berguna bagi kehidupan mereka maka kenakalan remaja juga tidak sehat dari segi ekonomi

PENUTUP
Kenakalan remaja merupakan perilaku yang tidak sehat baik dari segi fisik, mental, social dan ekonomi. Bagaimana Negara ini di masa akan datang apabila mereka remaja pada saat ini sudah tidak sehat semua, padahal mereka adalah pemimpin di masa datang.
Pencegahan kenakalan remaja lebih efektif dan efisien daripada kita mengobati, meskipun kita juga harus menyembuhkan remaja yang sudah terlanjur melakukan kenakalan, pencegahan akan berjalan dengan baik apabila ada sinergi dari pemerintah sebagai penentu kebijakan, institusi pendidikan dimana mereka belajar dan lingkungan keluarga

perubahan sosial

 Sebagaimana dalam perkembangan ilmu alam, ilmu sosial juga berusaha untuk mensinergikan antara apa yang diamati di lapangan penelitian dan konstruksi teori sosial tentang hal yang hendak diteliti. Statistika adalah ilmu yang paling sering digunakan untuk melakukan berbagai hal yang mungkin diukur dalam sistem sosial. Cara untuk membandingkan konstruksi teori sosial tersebut dengan apa yang diperoleh di lapangan adalah dengan membangun model. Pada dasarnya konstruksi teori sosial dapat secara sederhana disebut sebagai model dari proses sosial yang diamati.

Namun memodelkan sebuah sistem sosial bukanlah pekerjaan mudah. Hal ini didasarkan pada dua hal. Pertama, interaksi kompleks yang terlibat dalam sistem sosial berarti bahwa hasil dari pemodelan tersebut sulit untuk dianalisis dengan menggunakan pendekatan biasa (kompleksitas sintaktik). Kedua, karakteristik dari fenomena sosial seringkali lebih baik didekati dengan representasi semantik alias pendekatan secara kualitatif biasa. Persoalannya adalah hal ini sangat sulit untuk diterjemahkan dalam metode formal, sehingga mengakibatkan kesulitan melakukan pengecekan dengan teori yang sudah ada selama ini.

Dalam ilmu alam, masalah seperti ini tentu sangat mudah untuk diatasi. Model yang dibangun dapat berbentuk simulasi. Simulasi menangkap struktur perilaku yang ada di obyek yang diamati untuk kemudian diujicobakan ke ‘miniatur-miniatur’ yang dibuat agar dapat menjelaskan fenomena yang terjadi. Contohnya adalah upaya manusia dengan berbagai bangunan geometri matematika seperti bola, lingkaran, balok, dan sebagainya yang dianggap sebagai struktur bentuk di alam. Bumi kita katakan berbentuk bola, kotak kita anggap berbentuk balok, lintasan peluru dikatakan berbentuk parabola, dan seterusnya. Simulasi adalah suatu bentuk model di mana kita dapat mencobakan/bereksperimen sedemikian hingga dapat mengetahui struktur yang ada di obyek nyata yang dianalisis.

Bagaimana cara mengetahui apakah sebuah gedung besar sudah tahan terhadap gempa? Apakah kita membangun sebuah bangunan besar lalu menanti gempa datang untuk mengetahui kekuatannya? Tentu tidak! Kita membuat bangunan dengan konstruksi semirip mungkin dengan bangunan yang hendak kita bangun. Tentu tak harus bangunan yang besarnya sama dengan yang kita bangun, kita bisa membuat miniatur yang konstruksinya sama. Lalu kita simulasikan dengan membuat getaran yang kira-kira mirip atau sama dengan gempa, apakah ledakan, apakah dorongan, dan seterusnya. Dari sini kita tahu apakah bangunan yang akan kita bangun dengan konstruksi yang sudah diujikan tersebut seberapa kuat jika dilanda gempa.

Tentu ini sangat berbeda dengan model yang menggunakan statistika. Kita lihat gambar di bawah ini, tentang alur logis pemodelan dengan pengolahan dan pengumpulan data dan dengan simulasi.

         

         

 

Bagaimana alur di atas dalam praktik analisis sosialnya?

Dalam melakukan simulasi sosial, yang harus kita ingat dalam melakukan hal tersebut adalah kita harus berhati-hati dalam membuat model dari fenomena sosial yang kita amati. Kita harus dapat membatasi masalah berdasarkan aspek dan perspektif yang kita amati. Hal ini sangat penting karena sangat mungkin orang akan membuat model dari aspek dan perspektif yang berbeda terhadap sebuah masyarakat. Selain itu, konteks masalah yang kita amati juga harus jelas karena sangat mungkin orang menggunakan istilah yang sama untuk konteks yang berbeda. Namun satu hal yang pasti, kita dapat memecahkan suatu fenomena sosial dengan jauh lebih baik ketika kita menggunakan sebanyak mungkin aspek dan perspektif, meskipun aspek dan perspektif tersebut kontradiktif.

Pemodelan dan simulasi selalu diawali dengan ketertarikan kita pada suatu fenomena di dunia nyata. Fenomena ini kita namakan target. Tujuan selanjutnya adalah membuat model dari fenomena (target) tersebut, yang lebih sederhana dibandingkan dengan fenomena tersebut.

Dalam model statistika, peneliti mengembangkan sebuah model melalui suatu abstraksi dari suatu perkiraan tentang proses sosial yang terjadi. Pada metode ini, biasanya model yang dikembangkan berupa persamaan-persamaan matematis atau uraian-uraian kualitatif tentang suatu hal. Selanjutnya seorang peneliti haruslah mengumpulkan beberapa data yang akan digunakan untuk melakukan estimasi. Analisis yang dilakukan selanjutnya terdiri dari : pertama, peneliti akan membandingkan apakah prediksi yang dihasilkan oleh model memiliki kemiripan dengan data aktual yang didapat. Kedua, peneliti mengukur besar dari parameter dan membandingkan besar tersebut untuk mengidentifikasi parameter terpenting.

Untuk membuat simulasi sosial, seperti pada model statistika, seorang peneliti juga membangun suatu model dengan berasumsi pada perkiraan proses sosial yang ada. Namun berbeda dengan model statistik yang cenderung menggunakan persamaan matematis, model yang dibangun didasarkan pada program komputer – alur kerja, urut-urutan dari proses sosial tersebut. Program tersebut kemudian disimulasikan, yang berarti dijalankan pada komputer, dan hasil yang didapat diamati. Model yang didapat digunakan untuk memperoleh data hasil simulasi. Data hasil simulasi ini kemudian dibandingkan dengan data yang didapat dari lapangan untuk dicek apakah model yang dibangun menghasilkan output yang mirip dengan kondisi sebenarnya.

Kedua metode ini dapat digunakan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena sosial yang ada. Namun meskipun terdapat banyak kesamaan antara dua metode ini, terdapat perbedaan yang sangat besar diantara keduanya. Bila model statistik bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara variabel yang terukur pada satu waktu tertentu, simulasi sangat memperhatikan keseluruhan proses yang terjadi. Dalam simulasi, dapat diperoleh penjelasan yang eksplisit tentang proses yang terjadi pada fenomena sosial yang dimodelkan. Hal yang kontras terjadi pada pemodelan secara statistik, yaitu pada metode ini akan dihasilkan pola dari hubungan-hubungan antara variabel yang diukur, namun dia tidak dapat memodelkan mekanisme yang mendasari hubungan-hubungan tersebut.

Asmuni, mahasiswa STAI TASIKMALAYA

 

Pikiran Konyol Indonesia Asli

Pikiran Konyol Indonesia Asli

Kebaikan selalu terbuka bagi siapa saja yang menginginkannya, begitupun keburukan justru lebih mendominasi siapa saja yang lengah serta tak mempunyai minat hidup.

Ha……….ha..haa………, bagi seseorang yang gembira dalam suasana menyenangkan. Kesadaran mereka/ emosinya sedang dalam skala naik sangat tinggi. Terkadang sangat disesalkan ketika seorang manusia masih selalu buram dalam pandangan masa depannya.

Jika kita melihat potret Indonesia masa kini, diawali dari terjadinya bencana Tsunami, sengketa tanah kepulauan dengan Malaysia, bom dipantai Bali, bom di Hotel Patriot Jakarta.

Baru-baru ini banyak bencana lagi, yang terjadi :

  • Aliran-aliran yang dikatakan sesat.
  • Aliran Lia Eden di Jakarta yang mengaku jelmaan malaikat Jibril.
  • Yang mengaku Nabi terakhir yang muncul di Indonesia Ahmad Musaddiq setelah Mirza Gulam Ahmad di India.
  • Sampai yang terjadi saat ini, yaitu setelah adanya perubahan iklim sedunia yang bertempat di Bali.

Adanya beberapa efek di internal Indonesia sendiri dengan perubahan iklim tersebut :

F Terjadinya busung lapar di Sumatra.

F Dan yang paling mengenaskan terjadinya banjir dimana-mana,hinnga mencapai 2,5 meter bahkan lebih, Jakarta, Ponorogo, Jombang, Surabaya, Jawa Timur.

F longsor di Karang Anyar Jawa Tengah yang menewaskan 24 jiwa, tertimbun reruntuhan rumah dihuninya.

F Laut pasang yang meruntuhkan puluhan rumah dipinggir pantai di Tanggerang Banten Jawa Barat

F Begitu pula banjir yang sangat besar di dunia pada saat ini, mulai dari banjir, angin topan, terjadinya mencapai 32 kali sedunia di tahun ini.

Bagaimanakah manusia seterusnya menghidupi dirinya? Apakah harus menciptakan inovasi yang baru, ataupun menjadi pekerja di beberapa industri atau perusahaan yang siap menjadi pelayan yang setia bagi bosnya, yang kadang jika tidak nurut maka dipecat.

Bagaimana kemajuan akan kita dapatkan jika secara sederhana pikiran selalu tertuju kepada pekerjaan yang selalu dicari dan seolah menjadi puncak kesuksesan dalam hidup ketika pekerjaan itu didapat.

Tuhan memang menyuruh manusia berusaha? Semuanya dikasih otak untuk berfikir, serta tidak jauh berbeda antara otak orang Jerman, Amerika, Arab, dan Indonesia sendiri.

Tapi mengapa kita selalu terpuruk?

Apakah karena otaknya tak sama, atau kita salah menjadi seorang pekerja untuk menjadi seorang pekerja untuk kehidupan mereka.

Kisah ini perlu diperhatikan, bahwa dulu seorang pemimpin perang di Rusia selalu mengatakan bahwa ketika kalah perang “apakah ada guru yang masih hidup”

Jika ditinjau dari historis realitas pada zaman itu, berarti bahwa pahlawan tak berjasa sebagai pembimbing demi kemajuan negaranya. Karena kemajuan suatu Negara tidak bisa dilihat dari kehebatan tentaranya, megah pusat peragangannya, atau luas tanah negaranya, tetapi sejauh mana pendidikannya berkembang yang bisa memicu perkembangan negaranya, serta menciptakan hal yang baru dalam dalam perubahan demi kemajuan bangsa. Dan itu disebabkan oleh keberhasilan dalm pendididkan yang dilaluinya.

Selama ini tujuan kita untuk tercapai hidup yang mandiri, kadang dikatakan sukses dengan hanya jika sudah bekerja, itu termasuk pada seseorang yang berfikir dirinya sendiri ( ah…..yang penting gue senang dapat job ini, bodoh amat dengan yang lain) bukan untuk kemajua masa depan bangsa harus bagaimana agar mengungguli orang Jepang yang sudah menciptakan handphone, Rusia yang menciptakan rudal, Iran yang sudah menciptakan nuklir.

Padahal Islam menganjurkan untuk “bekerjalah untuk kehidupan duniamu seolah-olah akan hidup selamanya, beramallah untuk akhiratmu seolah-olah akan mati besok”, lo konsep itu kan manjur, kok malah dipakai orang diluar Islam, heran..!!

Idioligi seperti ini tidak akan sama sekali memajukan dirinya apalagi bangsanya, bahkan orang luar negeri justru akan semakin menjajah kita secara kontinyu hingga bisa disetir sesuai keinginan mereka, maka terbunuhlah kreatifitas kita.

Apakah kita akan selalu tertindas, kemana Tuhan yang kita idam-idamkan selalu, katanya paling mulya diseluruh Tuhan didunia, atau bangkit melawan dengan pedang kreatifitas mandiri, tanpa campur tangan Tuhan.

Moh.Asmuni, STAI tasikmalaya