Pikiran Konyol Indonesia Asli

Pikiran Konyol Indonesia Asli

Kebaikan selalu terbuka bagi siapa saja yang menginginkannya, begitupun keburukan justru lebih mendominasi siapa saja yang lengah serta tak mempunyai minat hidup.

Ha……….ha..haa………, bagi seseorang yang gembira dalam suasana menyenangkan. Kesadaran mereka/ emosinya sedang dalam skala naik sangat tinggi. Terkadang sangat disesalkan ketika seorang manusia masih selalu buram dalam pandangan masa depannya.

Jika kita melihat potret Indonesia masa kini, diawali dari terjadinya bencana Tsunami, sengketa tanah kepulauan dengan Malaysia, bom dipantai Bali, bom di Hotel Patriot Jakarta.

Baru-baru ini banyak bencana lagi, yang terjadi :

  • Aliran-aliran yang dikatakan sesat.
  • Aliran Lia Eden di Jakarta yang mengaku jelmaan malaikat Jibril.
  • Yang mengaku Nabi terakhir yang muncul di Indonesia Ahmad Musaddiq setelah Mirza Gulam Ahmad di India.
  • Sampai yang terjadi saat ini, yaitu setelah adanya perubahan iklim sedunia yang bertempat di Bali.

Adanya beberapa efek di internal Indonesia sendiri dengan perubahan iklim tersebut :

F Terjadinya busung lapar di Sumatra.

F Dan yang paling mengenaskan terjadinya banjir dimana-mana,hinnga mencapai 2,5 meter bahkan lebih, Jakarta, Ponorogo, Jombang, Surabaya, Jawa Timur.

F longsor di Karang Anyar Jawa Tengah yang menewaskan 24 jiwa, tertimbun reruntuhan rumah dihuninya.

F Laut pasang yang meruntuhkan puluhan rumah dipinggir pantai di Tanggerang Banten Jawa Barat

F Begitu pula banjir yang sangat besar di dunia pada saat ini, mulai dari banjir, angin topan, terjadinya mencapai 32 kali sedunia di tahun ini.

Bagaimanakah manusia seterusnya menghidupi dirinya? Apakah harus menciptakan inovasi yang baru, ataupun menjadi pekerja di beberapa industri atau perusahaan yang siap menjadi pelayan yang setia bagi bosnya, yang kadang jika tidak nurut maka dipecat.

Bagaimana kemajuan akan kita dapatkan jika secara sederhana pikiran selalu tertuju kepada pekerjaan yang selalu dicari dan seolah menjadi puncak kesuksesan dalam hidup ketika pekerjaan itu didapat.

Tuhan memang menyuruh manusia berusaha? Semuanya dikasih otak untuk berfikir, serta tidak jauh berbeda antara otak orang Jerman, Amerika, Arab, dan Indonesia sendiri.

Tapi mengapa kita selalu terpuruk?

Apakah karena otaknya tak sama, atau kita salah menjadi seorang pekerja untuk menjadi seorang pekerja untuk kehidupan mereka.

Kisah ini perlu diperhatikan, bahwa dulu seorang pemimpin perang di Rusia selalu mengatakan bahwa ketika kalah perang “apakah ada guru yang masih hidup”

Jika ditinjau dari historis realitas pada zaman itu, berarti bahwa pahlawan tak berjasa sebagai pembimbing demi kemajuan negaranya. Karena kemajuan suatu Negara tidak bisa dilihat dari kehebatan tentaranya, megah pusat peragangannya, atau luas tanah negaranya, tetapi sejauh mana pendidikannya berkembang yang bisa memicu perkembangan negaranya, serta menciptakan hal yang baru dalam dalam perubahan demi kemajuan bangsa. Dan itu disebabkan oleh keberhasilan dalm pendididkan yang dilaluinya.

Selama ini tujuan kita untuk tercapai hidup yang mandiri, kadang dikatakan sukses dengan hanya jika sudah bekerja, itu termasuk pada seseorang yang berfikir dirinya sendiri ( ah…..yang penting gue senang dapat job ini, bodoh amat dengan yang lain) bukan untuk kemajua masa depan bangsa harus bagaimana agar mengungguli orang Jepang yang sudah menciptakan handphone, Rusia yang menciptakan rudal, Iran yang sudah menciptakan nuklir.

Padahal Islam menganjurkan untuk “bekerjalah untuk kehidupan duniamu seolah-olah akan hidup selamanya, beramallah untuk akhiratmu seolah-olah akan mati besok”, lo konsep itu kan manjur, kok malah dipakai orang diluar Islam, heran..!!

Idioligi seperti ini tidak akan sama sekali memajukan dirinya apalagi bangsanya, bahkan orang luar negeri justru akan semakin menjajah kita secara kontinyu hingga bisa disetir sesuai keinginan mereka, maka terbunuhlah kreatifitas kita.

Apakah kita akan selalu tertindas, kemana Tuhan yang kita idam-idamkan selalu, katanya paling mulya diseluruh Tuhan didunia, atau bangkit melawan dengan pedang kreatifitas mandiri, tanpa campur tangan Tuhan.

Moh.Asmuni, STAI tasikmalaya

Komentar telah ditutup